DALAM literatur ekonomi, pasar kerap digambarkan sebagai ruang rasional yang digerakkan oleh hukum permintaan dan penawaran. Namun, realitas sering kali menunjukkan hal sebaliknya. Pasar bisa dimanipulasi, digiring, bahkan “dipanaskan” oleh persepsi semu.
Fenomena inilah yang dalam tulisan ini disebut sebagai monkey effect—sebuah ilustrasi tentang bagaimana kelangkaan buatan dan ekspektasi keuntungan dapat menjebak pelaku ekonomi kecil dalam pusaran spekulasi.
Istilah monkey effect berangkat dari ilustrasi kehidupan sebuah desa agraris. Para petani hidup berdampingan dengan persoalan klasik: hama monyet yang setiap hari merusak tanaman.
Upaya mengusir tak kunjung berhasil. Monyet menjadi musuh bersama, simbol kerugian yang terus berulang.
Baca juga: Awas Jebakan “Monkey Effect” di Balik Rumor Penjualan Lumpur
Situasi itu diamati dengan cermat oleh seorang sudagar. Diam-diam, ia mengumpulkan data: jumlah monyet, pola serangan, hingga frustrasi sosial-ekonomi masyarakat.
Pada saat yang tepat, sudagar itu membuat pengumuman sederhana namun mengguncang. Ia bersedia membeli monyet—yang selama ini dianggap hama—dengan harga Rp100 ribu per ekor.
Reaksi masyarakat dapat ditebak. Para petani berbondong-bondong menangkap monyet. Sesuatu yang sebelumnya tak bernilai kini berubah menjadi komoditas.
Inilah fase awal terbentuknya incentive shock, di mana perubahan insentif secara tiba-tiba mengubah perilaku ekonomi masyarakat, sebagaimana dijelaskan dalam teori rational choice (Becker, 1976).
Baca juga: Anomali LPG 3 Kg
Seiring waktu, jumlah monyet di desa menipis. Stok menurun, harga naik. Pada titik ini, mekanisme klasik hukum permintaan dan penawaran bekerja. Namun yang menarik, kelangkaan ini bukan murni alami—ia dipicu oleh desain pasar yang disengaja.
Fenomena ini selaras dengan konsep artificial scarcity, yang kerap dibahas dalam ekonomi politik dan studi pasar spekulatif. Ketika harga terus naik, muncul aktor baru: pedagang monyet dadakan. Mereka bukan petani, melainkan agen yang melihat peluang margin.
Terjadi persaingan antarpengepul, pembelian dengan harga semakin tinggi, dan akumulasi stok di tangan perantara. Rantai distribusi pun terbentuk—petani, agen, dan sudagar—menciptakan ilusi pasar yang “sehat” dan aktif.
Dalam perspektif teori ekonomi, fase ini mencerminkan speculative bubble. Menurut Charles Kindleberger dan Hyman Minsky, gelembung spekulatif terbentuk ketika harga aset terus naik bukan karena nilai fundamentalnya, melainkan karena ekspektasi bahwa harga akan terus meningkat (mania stage dalam Minsky’s Financial Instability Hypothesis).
Ketika harga monyet mencapai puncak dan stok langka di tingkat petani, sudagar menilai momen telah sempurna. Ia kemudian melepas seluruh stok monyet yang sejak awal telah ia kuasai, dengan margin keuntungan besar. Setelah pasar jenuh dan permintaan runtuh, sang sudagar menghilang.
Yang tertinggal adalah petani dan para agen. Mereka memegang monyet yang dibeli dengan harga tinggi, namun tak lagi memiliki pembeli.
“Demam” bisnis monyet pun berakhir—menyisakan kebingungan, kerugian, dan rasa tertipu.
Secara teoretis, monkey effect menggambarkan kombinasi dari beberapa konsep ekonomi penting. Pertama, information asymmetry (Akerlof, 1970), di mana satu pihak menguasai informasi lebih lengkap dibanding pelaku pasar lainnya.
Kedua, herd behavior, yaitu kecenderungan individu mengikuti keputusan kolektif tanpa analisis mendalam, sebagaimana dijelaskan dalam ekonomi perilaku (Shiller, 2015).
Ketiga, moral hazard, karena sang sudagar tidak menanggung risiko sosial dari keruntuhan pasar yang ia ciptakan.
Lebih jauh, ilustrasi ini juga menjadi kritik sosial. Pasar tidak selalu netral.
Dalam kondisi masyarakat dengan literasi ekonomi rendah dan tekanan ekonomi tinggi, manipulasi persepsi dapat menciptakan siklus eksploitasi. Seperti halnya krisis spekulatif dalam sejarah ekonomi—dari Tulip Mania abad ke-17 hingga gelembung aset modern—korban terbesar hampir selalu berada di lapisan bawah.
Pada akhirnya, monkey effect bukan sekadar cerita tentang monyet. Ia adalah alegori tentang bagaimana ekonomi bekerja ketika rasionalitas dikalahkan oleh euforia, dan ketika kekuasaan informasi menjadi alat akumulasi keuntungan sepihak.
Bagi masyarakat, pelajaran terpentingnya sederhana namun mendasar: tidak semua pasar yang tampak menguntungkan benar-benar sehat—sebagian hanya ilusi yang menunggu waktu untuk runtuh.[] Syarbaini Oesman












