Opini  

Jokowi di Mata Seorang Sopir Taksi

Bandara Sultan Hasanuddin di Maros (foto: Sindonews)

SETIAP menggunakan taksi, saya selalu berusaha untuk bersikap ramah. Sebagai orang timur, apa lagi sebagai orang desa, saling bertegur sapa, menjadi sesuatu yang “wajib.” Agama juga mengajarkan, bahwa silaturahim bisa memperpanjang usia.  
 
Tapi, ramah yang tidak pada tempatnya tentu tidak sehat. Misalnya, ketika berada di luar komunitas budaya sendiri, bersikap ramah kadangkala bisa berakibat buruk. Bukan memperpanjang usia; tapi justeru bisa mendatangkan petaka. Makanya, jangan suka “tebar pesona” (TP) kepada orang yang belum kita kenal. TP adalah sikap ramah yang tidak perlu.

Karena itu, kita harus pandai memilah. Kapan harus bersikap ramah, pada posisi yang bagaimana pula harus sebaliknya.

Begitulah setiap bepergian. Saya tetap menggunakan “filter” pada saat berinteraksi dengan lawan bicara. Untuk berjaga-jaga; mengantisipasi kemungkinan buruk menimpa.
“Berhadapan dengan orang yang baru kita kenal, mesti selalu berhati-hati,” begitu prinsip yang saya tanamkan dalam diri dan kepada orang dekat.

Bagi saya, hidup kadang harus disikapi ibarat pemandangan di hutan Afrika. Hewan yang satu menjadi mangsa bagi yang lainnya. Yang kuat selalu menjadi ancaman bagi yang lemah. Dalam hukum rimba; siapa yang kuat dialah yang berkuasa.
Demikian pula di “belantara kehidupan sosial” manusia. Akan selalu ada yang “menerkam” dan yang menjadi “mangsa”. Karenanya, manusia wajib waspada.

***

Apa boleh buat, hukum alam terlanjur memberi stigma miring kepada sekelompok orang seperti sopir bis kota atau metro mini. Penilaian lebih kurang sama juga kerap ditujukan untuk pekerja sektor informal lain seperti sopir taksi, meskipun tidak boleh kita menganggap mereka semua sama. Pasti banyak juga yang baik.

Demikianlah. Suasana yang sama mewarnai perjalanan saya dari Bandara Sultan Hasanuddin di Maros menuju Kota Makassar, suatu siang pada penghujung Oktober.

Begitu keluar dari pintu kedatangan, saya langsung mencari counter taksi.
Sudah lumrah di banyak bandara yang norak. Di pintu kedatangan, tersaji pemandangan kurang menarik. Calo angkutan umum dan sopir taksi yang berebut penumpang. Tidak jarang pula, aksi mereka ditingkahi dengan suara-suara teriakan, menawarkan jasa.

Kali ini, di Maros, saya menyaksikan pemandangan berbeda. Sesuatu yang bertolak belakang dengan stigma yang terlanjur diidentikkan kepada masyarakat Bugis Makassar sebagai etnis yang kasar dan bengis.

Seperti dalam cerita dongeng bajak laut. Konon, bajak laut Bugis dikenal sadis, menyeramkan.
Hal itu sama sekali tidak saya temukan di bandara Makassar. Tidak ada calo. Tidak ada suara berteriak-teriak. Juga tidak terlihat orang-orang yang datang memaksa agar menggunakan jasa taksinya, seperti pemandangan hari-hari di tempat lain. Di sini beda.

Sebagaimana penumpang lainnya, saya langsung menuju ke arah kanan.
Di ujung lorong, sudah kelihatan dua monitor ukuran sedang. Rupanya fasilitas ini digunakan untuk memesan taksi. Kita tinggal memilih, mau pakai argo atau menggunakan tarif berdasarkan zona.
Pengoperasiannya pun sangat mudah. Tinggal memencet salah satu dari dua icon yang tersedia, kertas struk order taksi langsung keluar. Persis seperti membuat karcis antrean di bank. Setelah itu, kita dipandu menuju parkiran taksi yang sudah antre menunggu penumpang.

Tidak lama, saya sudah mendapatkan tumpangan. Sebuah taksi warna biru dengan sopir berbadan tegap, berkulit gelap, siap membawa saya menuju hotel.

Seperti biasa, suasana batin saya tetap diliputi perasaan was-was, cemas melewati perjalanan pertama saya di Makassar.

Sedan tua, mungkin buatan tahun 90-an, itu meluncur perlahan menuju ke arah kota.
Entah siapa yang memulai, saya dan sopir bersongkok — sejenis peci yang lazim dipakai muslim yang sudah berhaji — kemudian terlibat dialog.

Ia bertanya, “bapak asli orang mana?” Seperti biasa, saya langsung menggunakan filter. “Dari Sumatera,” jawab saya singkat.

Mobil terus melaju. Udara Makassar yang panas seperti menembus dinding sedan tua. Di kiri kanan jalan, saya menyaksikan bangunan-bangunan pertokoan. Seperti di daerah-daerah lain, bangunan pertokoan di sini juga terlihat kurang rapi, meskipun kotanya sendiri lumayan bersih.

Dari sikap dan tutur sapa sang sopir, saya cepat mengambil kesimpulan, bahwa dia adalah lawan bicara yang baik. “Dia orang yang ramah,” gumam saya dalam hati.

Kami terus terlibat pembicaraan yang seru. Sesekali, dia terbahak ketika menceritakan sesuatu yang lucu. Berbagai pertanyaan dia lahap dengan dialek Makassar yang kental.

Perjalanan Maros ke Makassar menghabiskan waktu hampir 1 jam dalam situasi normal. Akan terasa lama dan membosankan jika tidak diisi dengan kesibukan membaca atau bermain game. Tapi, saya beruntung, karena mendapatkan sopir taksi yang baik. Kadang saya memposisikannya sebagai guide untuk mendapatkan jawaban tentang destinasi wisata atau lokasi untuk membeli oleh-oleh.

Tiba-tiba topik berpindah ke soal politik. “Siapa calon presiden yang Bapak pilih nanti,” dia bertanya.
Pertanyaan pak sopir membuat saya agak kaget. Saya tidak menduga, ternyata dia berminat pada masalah politik. Terus terang, saya under estimate kepada dia yang seorang driver. “Apa untungnya bagi dia membicarakan politik?” batin saya.

Saya hanya menjawab seadanya. Tidak menunjukkan keberpihakan kepada salah satu pasangan kandidat calon presiden. Saya pikir, ini hanya sekedar pertanyaan basa-basi, mengisi waktu hingga saya sampai di lokasi tujuan.

Tapi, saya menyaksikan, dia benar-benar serius berbicara tentang calon presiden. “Dulu saya pendukung berat Jokowi,” kisahnya. “Saya simpati kapada Jokowi karena dia tipe pekerja keras dan tidak kenal gengsi. Dia mau masuk got,” kata si sopir mengenang.

Karena simpati, katanya, dia bergabung menjadi relawan untuk memenangkan Jokowi. Tapi, sekarang dia menyatakan sangat kecewa kepada presiden pilihannya. “Kami rakyat kecil sangat menderita. Dulu, saya bayar listrik cukup seratus ribu sebulan. Sekarang udah tiga ratus ribu,” keluhnya.

Dia mencoba mempengaruhi saya tentang pendirian politiknya. “Pokoknya, harus presiden baru,” si sopir menyatakan sikapnya. Saya tetap berusaha bersikap obyektif.  Saya mencoba menggugat pandangan politiknya. “Kan belum tentu dengan ganti presiden keadaan menjadi lebih baik nanti? Calon yang satu lagi, kan belum tentu juga membuat perubahan?” gugat saya.

Sopir taksi tak mau bergeming dengan pendiriannya. “Pokonya kita pilih presiden baru,” katanya.
Perjalanan saya segera berakhir. Four Points Sheraton, hotel yang dituju, sudah terlihat dari kejauhan.
Sebelum berpisah, saya sempat menanyakan namanya. Tapi identitas itu tidak saya tulis di sini. Saya harus membuat pertimbangan.

Tapi, hari ini, saya mendapatkan “pelajaran politik” berharga dari seorang sopir. Pelajaran tentang bagaimana mahalnya sebuah kepercayaan; tentang konsistensi antara ucapan dan perbuatan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *